• Senin, 04 Maret 2024
background

Artikel


Super Admin Website | Senin, 11 September 2023 | 163

SMPN 1 Pagaden Barat Berdasi (Bebas Dari Perundungan dan Intimidasi)

Oleh : Cucu Laelasari (Kepala SMPN 1 Pagaden Barat)

Perundungan atau lebih dikenal bullying kian menjadi. Baik terjadi di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah. Baik dilakukan oleh anggota keluarga maupun oleh teman sendiri. Hal ini terjadi kepada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Didukung oleh media yang memperlihatkan tindakan-tindakan perundungan sehingga mudah ditiru dan mudah disebarluaskan.  

Secara sederhana perundungan dapat diartikan sebagai perilaku yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh pelaku kepada korban, baik disengaja maupun tidak disengaja, baik fisik maupun non fisik, verbal maupun nonverbal (dengan kata-kata atau Tindakan) dengan tujuan menyakiti atau memperdaya korban. Biasanya dilakukan secara berulang-ulang bukan insidental. Perundungan verbal bisa berupa ejekan dengan perkataan, body shaming atau perkataan yang tidak menyenangkan lainnya atau berupa mengintimidasi. Sementara nonverbal atau fisik bisa berupa kekerasan fisik, perbuatan mencelakai atau menciderai korban.

Perundungan biasanya dilakukan oleh orang yang lebih tinggi kekuasaannya, misal oleh kakak kepada adiknya, oleh kakak kelas kepada adik kelasnya, atau oleh senior kepada juniornya atau oleh orang yang mempunyai kekuatan lebih, merasa lebih kaya, lebih hebat, lebih kuat dan sebagainya.

Dampak perundungan tidak bisa dibilang sepele. Banyak terjadi tindakan-tindakan yang merugikan si korban. Ada yang tidak mau sekolah karena takut, karena minder dan tidak percaya diri, bahkan ada yang sampai mengurung diri dan bunuh diri. Begitu dahsyatnya akibat perundungan. Namun, banyak anak-anak atau peserta didik kita yang tidak mau melapor karena takut. Hal ini jangan sampai terjadi kepada keluarga kita maupun kepada peserta didik kita.

            Murid-murid SMP yang notabene sedang berada pada usia remaja, sangat rentan dengan perilaku perundungan dan intimidasi, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku. Pada fase ini anak lebih emosional, mudah terpancing, belum berpikir dampaknya, baik buruknya, ingin mencoba, cenderung membangkang, mencari jati diri, dan eksistensi sehingga perundungan bisa dilakukan oleh seniornya atau teman yang memiliki power.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang setiap hari berinteraksi dengan peserta didik remaja ini merasa berkewajiban untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan dari tindakan ini. Sekolah juga sebagai rumah kedua bagi para peserta didik ingin menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka. SMPN 1 Pagaden Barat berupaya menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua, aman, dan menyenangkan bagi peserta didik untuk berinteraksi dan belajar. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi perundungan, baik yang diketahui oleh guru atau pihak sekolah maupun tidak diketahui. Untuk itu sekolah berupaya melakukan pencegahan.

Sudah berbagai upaya dilakukan oleh sekolah. Sebetulnya sudah sejak tahun 2020 sekolah melakukan sosialisasi, pencegahan, dan penanganan perundungan semampu yang bisa dilakukan. Diantaranya yang sudah dilakukan oleh sekolah sosialisasi pada upacara hari Senin dan oleh guru BK. Guru BK melakukan bimbingan baik individu maupun kelompok untuk menyampaikan pesan bahwa di SMPN 1 Pagaden Barat tidak boleh terjadi perundungan atau bullying, intimidasi apalagi kekerasan seksual. Program sudah diluncurkan oleh sekolah dengan dicanangkannya SMPN 1 Pagaden Barat BERDASI (Bebas dari Perundungan dan Intimidasi) dengan tujuan menekan angka perundungan dan intimidasi serta menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua warganya.

            BK SMPN 1 Pagaden Barat pun menyosialisasikan anti perundungan ini melalui media sosial yang bisa diakses oleh peserta didik dan oleh orang tua atau masyarakat pada umumnya melalui IG @bkspensbart. Sekolah pun baru-baru ini melakukan sosialisasi anti perundungan, anti kekerasan seksual, dan penyalahgunaan NAPZA secara serentak bagi peserta didik.

Kegiatan terakhir pada 31 Agustus 2023 mendapat kunjungan dan pencerahan dari Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Subang yang tugasnya menyerukan perlindungan dan hak-hak anak. Dihadiri oleh komisaris KPAD Kabupaten Subang Bapak Hasanudin, M.Pd. dan tim asistensi KPAD, dibuka dan dibersamai oleh Kepala SMPN 1 Pagaden Barat, dan dihadiri oleh guru-guru SMPN 1 Pagaden Barat. Kewajiban kita adalah berusaha, selebihnya kita serakan kepada Allah SWT.

“Sekolah adalah rumah tempat anak-anak tumbuh dan berkembang, menjaga anak-anak berarti menjaga bangsa, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki sikap besar kepada anak-anak sebagai penerus di masa depan”. (cl/disdikbud)

Komentar
    - Belum ada komentar -
Tinggalkan Komentar